Overwork Culture

Overwork Culture dan Dampaknya pada Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Ketika lembur dianggap prestasi, siapa yang bertanggung jawab atas keselamatan?

Pendahuluan

Dalam banyak lingkungan kerja, lembur masih dianggap sebagai tanda loyalitas, dedikasi, bahkan prestasi. Pekerja yang pulang paling malam sering dipuji sebagai “pekerja keras”, sementara mereka yang menjaga jam kerja dianggap kurang berkontribusi. Budaya ini dikenal sebagai overwork culture, yaitu kondisi kerja di mana jam kerja berlebihan dinormalisasi dan bahkan dibanggakan. Namun, di balik narasi produktivitas tersebut, terdapat risiko serius terhadap kesehatan dan keselamatan kerja (K3) yang sering diabaikan.

Overwork Culture sebagai Bahaya Kerja Tersembunyi

Dalam perspektif K3, bahaya kerja tidak hanya bersifat fisik seperti mesin atau bahan kimia, tetapi juga mencakup faktor psikososial, termasuk beban kerja berlebihan dan jam kerja panjang. Overwork menyebabkan kelelahan fisik dan mental yang berdampak langsung pada menurunnya kewaspadaan, konsentrasi, dan kemampuan mengambil keputusan. Kondisi ini secara signifikan meningkatkan risiko kecelakaan kerja, kesalahan operasional, dan near miss accident.

Ironisnya, karena lembur sudah dianggap “biasa”, risiko tersebut jarang diidentifikasi sebagai bahaya kerja. Padahal, kelelahan kronis merupakan salah satu penyebab utama kecelakaan kerja di berbagai sektor, mulai dari industri, transportasi, hingga pekerjaan berbasis pengetahuan.

Dampak Overwork terhadap Keselamatan Kerja

Overwork culture memiliki dampak berlapis terhadap keselamatan kerja. Pertama, penurunan fokus dan reaksi membuat pekerja lebih mudah melakukan kesalahan, terutama pada pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi. Kedua, gangguan kesehatan seperti insomnia, hipertensi, gangguan jantung, dan burnout meningkatkan kerentanan pekerja terhadap insiden kerja. Ketiga, kelelahan mental dapat mendorong perilaku tidak aman, seperti mengabaikan prosedur K3 demi menyelesaikan pekerjaan lebih cepat.

Dalam jangka panjang, overwork juga berkontribusi pada meningkatnya angka absensi, turnover karyawan, dan penurunan produktivitas organisasi. Dengan kata lain, budaya lembur yang dianggap menguntungkan justru menimbulkan kerugian sistemik.

Normalisasi Lembur dan Kaburnya Tanggung Jawab

Salah satu persoalan utama overwork culture adalah kaburnya batas tanggung jawab. Ketika lembur dianggap pilihan pribadi atau bentuk dedikasi, risiko keselamatan yang muncul sering dibebankan kepada pekerja. Jika terjadi kecelakaan, penyebabnya kerap disederhanakan sebagai “kelalaian individu”, bukan sebagai kegagalan sistem kerja.

Dalam prinsip K3 modern, kecelakaan kerja bukan semata kesalahan pekerja, melainkan hasil dari desain kerja yang tidak aman, termasuk pengaturan jam kerja yang berlebihan. Oleh karena itu, organisasi memiliki tanggung jawab untuk memastikan beban kerja dan waktu kerja berada dalam batas aman.

Peran Manajemen dalam Mengendalikan Overwork

Manajemen memegang peran kunci dalam memutus rantai overwork culture. Pengendalian jam kerja, pembagian beban kerja yang realistis, serta kebijakan istirahat yang jelas merupakan bagian dari upaya pencegahan risiko K3. Selain itu, indikator kinerja tidak seharusnya mengagungkan jam kerja panjang, melainkan menilai efektivitas, kualitas, dan keselamatan kerja.

Penting pula bagi perusahaan untuk memasukkan risiko psikososial seperti kelelahan dan burnout ke dalam identifikasi bahaya dan penilaian risiko (IBPR). Dengan demikian, overwork tidak lagi dipandang sebagai budaya kerja, melainkan sebagai potensi bahaya yang harus dikendalikan.

Penutup

Overwork culture bukan sekadar persoalan etika kerja, tetapi merupakan isu serius dalam kesehatan dan keselamatan kerja. Ketika lembur dianggap prestasi, risiko keselamatan sering terabaikan dan tanggung jawab menjadi kabur. Sudah saatnya organisasi mengubah paradigma: bekerja aman dan sehat bukan tanda kemalasan, melainkan fondasi produktivitas berkelanjutan. Dalam konteks K3, keselamatan tidak boleh dikorbankan atas nama target dan jam kerja panjang.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *