Digital Fatigue sebagai Risiko K3 Baru
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia bekerja. Penggunaan komputer, laptop, dan gawai kini menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas kerja sehari-hari, baik di perkantoran, industri kreatif, pendidikan, hingga sektor pelayanan. Namun, di balik kemudahan dan efisiensi tersebut, muncul risiko baru yang sering luput dari perhatian, yaitu digital fatigue atau kelelahan digital. Kondisi ini ditandai dengan mata lelah, sakit kepala, serta menurunnya konsentrasi kerja, yang jika dibiarkan dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Apa itu Digital Fatigue?
Digital fatigue adalah kondisi kelelahan fisik dan mental akibat paparan layar digital dalam durasi yang panjang dan terus-menerus. Berbeda dengan kelelahan kerja konvensional, digital fatigue lebih berkaitan dengan beban visual, kognitif, dan psikologis yang muncul akibat interaksi intens dengan perangkat digital.
Gejala digital fatigue tidak selalu disadari secara langsung. Pekerja sering menganggap mata perih, kepala terasa berat, atau sulit fokus sebagai hal biasa. Padahal, kondisi ini merupakan sinyal awal tubuh bahwa sistem visual dan saraf sedang bekerja melebihi batas wajar.
Digital Fatigue sebagai Risiko K3
Dalam perspektif K3, digital fatigue dapat dikategorikan sebagai risiko kerja modern yang bersifat ergonomi dan psikososial. Beberapa dampak yang berpotensi menimbulkan bahaya di tempat kerja antara lain:
- Mata lelah dan gangguan penglihatan
Paparan layar dalam waktu lama dapat menyebabkan computer vision syndrome, ditandai dengan mata kering, pandangan kabur, dan rasa perih. - Sakit kepala dan nyeri leher
Posisi kerja yang tidak ergonomis serta fokus visual berlebihan sering memicu ketegangan otot leher dan kepala. - Menurunnya konsentrasi kerja
Kelelahan kognitif membuat pekerja lebih mudah melakukan kesalahan, terutama pada pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi. - Risiko kecelakaan kerja
Penurunan fokus dan respons yang lambat dapat meningkatkan risiko kecelakaan, baik di lingkungan kantor maupun di sektor industri.
Dengan demikian, digital fatigue bukan sekadar masalah kenyamanan, tetapi dapat berkontribusi pada insiden K3 jika tidak dikelola dengan baik.
Faktor Penyebab Digital Fatigue
Beberapa faktor yang memicu digital fatigue di tempat kerja antara lain:
- Durasi kerja di depan layar yang terlalu lama tanpa jeda
- Intensitas cahaya layar yang tidak sesuai
- Postur kerja yang buruk dan tidak ergonomis
- Beban kerja digital yang tinggi (multitasking, notifikasi berlebihan)
- Kurangnya kesadaran perusahaan terhadap risiko kelelahan digital
Strategi Pencegahan dalam Perspektif K3
Untuk mengendalikan digital fatigue sebagai risiko K3, diperlukan upaya pencegahan yang sistematis, antara lain:
- Penerapan istirahat berkala
Mendorong pekerja menerapkan aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit melihat objek sejauh 20 kaki selama 20 detik. - Perbaikan ergonomi kerja
Penyesuaian posisi layar, kursi, dan meja kerja agar sesuai dengan prinsip ergonomi. - Pengaturan beban kerja digital
Mengurangi multitasking berlebihan dan mengelola notifikasi agar tidak mengganggu fokus kerja. - Edukasi dan sosialisasi K3
Memberikan pemahaman kepada pekerja bahwa digital fatigue adalah risiko kerja yang nyata dan perlu dicegah. - Kebijakan perusahaan yang mendukung kesehatan digital
Termasuk pengaturan jam kerja fleksibel, jeda layar, serta promosi keseimbangan kerja dan istirahat.
Penutup
Digital fatigue merupakan risiko K3 baru yang muncul seiring dengan meningkatnya digitalisasi dunia kerja. Mata lelah, sakit kepala, dan menurunnya konsentrasi kerja bukanlah hal sepele, melainkan tanda adanya kelelahan yang dapat berdampak pada keselamatan dan produktivitas. Oleh karena itu, perusahaan dan pekerja perlu bersama-sama menyadari, mencegah, dan mengelola digital fatigue sebagai bagian dari komitmen terhadap keselamatan dan kesehatan kerja di era digital.
