Risiko K3 pada Content Creator dan Pekerja Digital
Duduk Lama, Burnout, dan Tekanan Algoritma
Perkembangan teknologi digital telah melahirkan profesi baru seperti content creator, freelancer, social media manager, hingga pekerja remote. Meski terlihat fleksibel dan “tidak berbahaya”, pekerjaan digital tetap memiliki risiko dalam perspektif Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Risiko ini sering tidak disadari karena tidak bersifat fisik langsung seperti di sektor industri, namun dampaknya dapat serius bagi kesehatan jangka panjang.
Salah satu risiko utama adalah duduk terlalu lama (sedentary lifestyle). Content creator sering menghabiskan berjam-jam di depan laptop atau ponsel untuk editing, riset, dan mengelola konten. Posisi duduk yang tidak ergonomis dapat menyebabkan nyeri punggung, leher kaku, hingga gangguan muskuloskeletal. Selain itu, kurangnya aktivitas fisik juga meningkatkan risiko obesitas dan penyakit metabolik.
Risiko berikutnya adalah kelelahan mental atau burnout. Pekerja digital sering menghadapi tuntutan untuk selalu produktif, kreatif, dan responsif terhadap tren. Tidak adanya batas waktu kerja yang jelas membuat banyak content creator bekerja tanpa jeda yang cukup. Kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan emosional, kehilangan motivasi, bahkan gangguan kecemasan.
Tekanan lain yang cukup signifikan berasal dari algoritma media sosial, seperti di Instagram dan TikTok. Perubahan algoritma yang tidak pasti membuat creator merasa harus terus mengikuti tren, meningkatkan frekuensi posting, dan mengejar engagement. Ketergantungan pada angka like, views, dan followers dapat memicu stres dan rasa tidak percaya diri.
Selain itu, ada juga risiko paparan layar berlebih (screen time). Menatap layar dalam waktu lama dapat menyebabkan kelelahan mata (digital eye strain), sakit kepala, dan gangguan tidur akibat paparan cahaya biru. Jika tidak diimbangi dengan istirahat yang cukup, kondisi ini dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup.
Dari sisi keselamatan, pekerja digital juga rentan terhadap isolasi sosial. Bekerja sendiri dalam waktu lama tanpa interaksi langsung dapat memengaruhi kesehatan mental dan rasa keterhubungan sosial. Hal ini sering dialami oleh freelancer atau content creator yang bekerja dari rumah.
Untuk mengurangi risiko K3 tersebut, beberapa langkah pencegahan dapat diterapkan. Pertama, menerapkan prinsip ergonomi seperti menggunakan kursi yang mendukung postur tubuh dan mengatur posisi layar sejajar dengan mata. Kedua, menerapkan teknik work-rest cycle, misalnya istirahat setiap 30–60 menit. Ketiga, membatasi waktu kerja dan membuat jadwal yang seimbang antara produktivitas dan istirahat.
Selain itu, penting juga untuk menjaga kesehatan mental dengan tidak terlalu bergantung pada validasi algoritma. Content creator perlu membangun mindset bahwa kualitas dan konsistensi lebih penting daripada angka semata. Aktivitas fisik ringan, seperti stretching atau berjalan kaki, juga dapat membantu menjaga kebugaran tubuh.
Kesimpulannya, pekerjaan digital bukan berarti bebas risiko. Content creator dan pekerja digital tetap membutuhkan kesadaran K3 agar dapat bekerja secara sehat, aman, dan berkelanjutan. Dengan manajemen waktu yang baik, perhatian terhadap kesehatan fisik dan mental, serta strategi kerja yang seimbang, risiko-risiko tersebut dapat diminimalkan.
