Safety Culture vs Safety Formalitas: Ketika K3 Hanya Ada di Poster, Bukan Perilaku
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) seringkali menjadi slogan yang digaungkan di berbagai tempat kerja. Poster-poster bertuliskan “Safety First” terpampang di dinding, aturan tertulis tersusun rapi, bahkan pelatihan K3 dilakukan secara berkala. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah semua itu benar-benar menjadi budaya, atau hanya sekadar formalitas?
Apa Itu Safety Culture?
Safety culture atau budaya keselamatan adalah nilai, sikap, dan perilaku yang tertanam dalam diri setiap individu di tempat kerja. Dalam budaya ini, keselamatan bukan sekadar kewajiban, tetapi menjadi kesadaran bersama.
Ciri utama safety culture:
- Pekerja sadar akan risiko tanpa harus diingatkan
- Keselamatan menjadi prioritas dalam setiap aktivitas
- Ada komunikasi terbuka terkait bahaya kerja
- Pimpinan memberi contoh nyata dalam penerapan K3
Dalam safety culture, K3 hidup dalam tindakan sehari-hari, bukan hanya dalam dokumen.
Apa Itu Safety Formalitas?
Berbeda dengan budaya, safety formalitas hanya berfokus pada pemenuhan administrasi atau tuntutan regulasi. K3 dilakukan sekadar “agar terlihat patuh”.
Ciri safety formalitas:
- APD tersedia, tetapi tidak digunakan dengan disiplin
- Pelatihan hanya untuk menggugurkan kewajiban
- Poster keselamatan dipasang, namun diabaikan
- Tidak ada pengawasan atau evaluasi nyata
Akibatnya, K3 hanya menjadi simbol, bukan sistem yang melindungi.
Mengapa Safety Formalitas Berbahaya?
Ketika K3 hanya menjadi formalitas, risiko kecelakaan justru meningkat. Hal ini karena:
- Pekerja merasa aman secara semu
- Bahaya sering diabaikan
- Tidak ada rasa tanggung jawab bersama
- Budaya saling mengingatkan tidak terbentuk
Lebih berbahaya lagi, organisasi bisa merasa sudah “cukup aman”, padahal potensi kecelakaan tetap tinggi.
Faktor Penyebab Safety Hanya Jadi Formalitas
Beberapa faktor yang sering terjadi di lapangan:
- Kurangnya komitmen pimpinan
- Fokus pada target produksi dibanding keselamatan
- Minimnya edukasi yang bermakna
- Tidak adanya konsekuensi terhadap pelanggaran
- Budaya kerja yang mengabaikan risiko
Tanpa perubahan dari akar, K3 akan sulit menjadi budaya.
Membangun Safety Culture yang Nyata
Agar K3 tidak berhenti sebagai formalitas, diperlukan langkah nyata:
- Teladan dari pimpinan: perilaku aman harus dimulai dari atas
- Keterlibatan semua pihak: bukan hanya tim K3
- Edukasi yang relevan dan praktis
- Sistem pelaporan yang aman dan terbuka
- Penguatan kebiasaan kecil seperti memakai APD dan saling mengingatkan
Perubahan kecil yang konsisten lebih efektif dibanding aturan besar yang tidak dijalankan.
Penutup
Keselamatan kerja bukan tentang seberapa banyak poster yang terpasang, tetapi tentang bagaimana setiap individu bertindak. Ketika K3 hanya menjadi formalitas, maka keselamatan hanyalah ilusi. Namun, ketika K3 menjadi budaya, keselamatan menjadi bagian dari kehidupan kerja itu sendiri.
Saatnya bertanya: di tempat kita, K3 sudah menjadi budaya, atau masih sekadar pajangan?
