Ketika AI Mengawasi Pekerja: Teknologi Keselamatan atau Risiko Baru?
Bayangkan seorang pekerja berada di sebuah pabrik. Di atas kepalanya terdapat kamera berbasis artificial intelligence (AI) yang terus memantau area kerja. Sistem dapat mengenali apakah pekerja menggunakan helm, rompi keselamatan, atau sepatu pelindung.
Ketika seorang pekerja memasuki area berbahaya tanpa menggunakan APD lengkap, sistem segera memberikan peringatan kepada supervisor.
Dari sisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3), teknologi seperti ini terlihat sangat menjanjikan.
Namun muncul pertanyaan yang semakin penting:
Bagaimana jika teknologi yang awalnya dibuat untuk melindungi pekerja justru membuat pekerja merasa terus-menerus diawasi?
Inilah salah satu tantangan baru dalam penerapan AI di dunia kerja.
AI dan Transformasi Keselamatan Kerja
AI semakin banyak digunakan untuk membantu perusahaan mengidentifikasi bahaya dan mengelola keselamatan kerja.
Dalam konteks K3, AI dapat digunakan untuk:
- mendeteksi pekerja yang tidak menggunakan APD;
- mengenali perilaku berbahaya;
- memantau area kerja secara real-time;
- mendeteksi pekerja memasuki restricted area;
- menganalisis potensi kecelakaan;
- mendeteksi kelelahan atau kondisi tertentu;
- memantau kondisi lingkungan kerja;
- membantu investigasi kecelakaan;
- memberikan peringatan sebelum kondisi berbahaya berkembang menjadi kecelakaan.
Misalnya, kamera computer vision dapat mengenali pekerja yang tidak menggunakan helm keselamatan. Sistem kemudian mengirimkan notifikasi kepada petugas K3.
Dengan demikian, AI dapat berfungsi sebagai lapisan tambahan dalam sistem pencegahan kecelakaan.
Namun, manfaat tersebut tidak berarti bahwa semakin banyak pengawasan selalu berarti semakin aman.
Justru di sinilah persoalan baru muncul.
Ketika Keselamatan Berubah Menjadi Surveillance
Penggunaan AI di tempat kerja memungkinkan perusahaan mengumpulkan data dalam jumlah besar mengenai aktivitas pekerja.
Data tersebut dapat mencakup:
- lokasi pekerja;
- waktu masuk dan keluar;
- pergerakan pekerja;
- kecepatan bekerja;
- produktivitas;
- interaksi dengan mesin;
- kepatuhan terhadap prosedur;
- penggunaan APD;
- pola aktivitas;
- bahkan indikator tertentu yang berkaitan dengan perilaku atau kondisi pekerja.
ILO dalam AI systems @ work: a changing psychosocial work environment menyoroti bahwa AI dapat mengubah lingkungan psikososial kerja melalui workplace surveillance, perubahan otonomi pekerjaan, data-driven management, dan persoalan privasi serta penggunaan data. (International Labour Organization)
Artinya, kamera dan sensor yang awalnya digunakan untuk keselamatan dapat berkembang menjadi sistem pemantauan performa.
Contohnya:
Kamera awalnya digunakan untuk mendeteksi pekerja tanpa helm.
Tetapi kemudian sistem digunakan untuk:
menghitung berapa lama seorang pekerja berada di satu lokasi, berapa kali pekerja berhenti, seberapa cepat pekerja menyelesaikan tugas, dan apakah pekerja dianggap cukup produktif.
Pada titik tersebut, fungsi teknologi telah bergeser dari safety monitoring menjadi employee surveillance.
Work Intensification: Ketika AI Membuat Pekerjaan Semakin Cepat
Salah satu risiko yang dibahas dalam konteks AI dan dunia kerja adalah work intensification, yaitu meningkatnya tekanan atau tempo pekerjaan.
AI dapat membuat pekerjaan menjadi lebih efisien. Tetapi peningkatan efisiensi tersebut belum tentu otomatis berarti beban pekerja menjadi lebih ringan.
Misalnya, sebelum menggunakan AI, seorang pekerja menyelesaikan 50 unit pekerjaan per hari.
Setelah perusahaan memasang sistem AI, produktivitas meningkat.
Kemudian target dinaikkan menjadi 70 unit.
AI memang meningkatkan kemampuan perusahaan untuk mengukur produktivitas. Namun, jika peningkatan produktivitas tersebut diterjemahkan menjadi target yang semakin tinggi tanpa mempertimbangkan kemampuan manusia, pekerja dapat mengalami tekanan kerja yang lebih besar.
ILO juga mencatat bahwa transformasi digital dan AI dapat memperkuat risiko yang sudah ada, termasuk tuntutan kerja yang tinggi dan rendahnya kontrol pekerja terhadap pekerjaannya. (International Labour Organization)
Dengan kata lain:
AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi manusia tetap memiliki batas fisik dan psikologis.
Berkurangnya Otonomi Pekerja
Otonomi berarti sejauh mana pekerja memiliki ruang untuk mengatur dan mengambil keputusan mengenai bagaimana pekerjaan dilakukan.
AI dan algoritma dapat mengurangi ruang tersebut apabila hampir setiap aktivitas pekerja ditentukan atau dievaluasi oleh sistem.
Contohnya:
- AI menentukan urutan pekerjaan;
- sistem menentukan target;
- algoritma menentukan waktu penyelesaian;
- sistem memberikan skor performa;
- dashboard memberi peringkat produktivitas;
- supervisor menerima notifikasi ketika pekerja dianggap tidak memenuhi standar.
Pekerja akhirnya tidak hanya bekerja dengan mesin, tetapi juga bekerja di bawah pengawasan algoritma.
ILO memasukkan autonomy, workload, work pace, supervision and support sebagai bagian penting dari lingkungan psikososial kerja. (International Labour Organization)
Persoalannya bukan semata-mata apakah AI digunakan, tetapi bagaimana AI digunakan dalam pengelolaan pekerjaan.
Risiko Psikososial dari AI
Risiko K3 selama ini sering diasosiasikan dengan kecelakaan, mesin, kebisingan, bahan kimia, kebakaran, atau ergonomi.
Namun, dunia kerja modern juga menghadapi risiko psikososial.
Dalam laporan global 2026, ILO menempatkan antara lain tuntutan kerja, beban kerja, otonomi, pengaturan waktu kerja, proses yang adil dan transparan, serta digital monitoring sebagai bagian dari lingkungan psikososial kerja. (International Labour Organization)
Dalam konteks penggunaan AI, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Merasa selalu diawasi
Pekerja dapat merasa bahwa setiap aktivitasnya direkam dan dianalisis.
2. Tekanan untuk terus produktif
Ketika AI mampu mengukur performa secara real-time, pekerja dapat menghadapi tekanan untuk mempertahankan angka produktivitas tertentu.
3. Hilangnya otonomi
Keputusan mengenai cara dan tempo bekerja semakin banyak ditentukan oleh sistem.
4. Kekhawatiran terhadap privasi
Pekerja dapat mempertanyakan:
Data saya dikumpulkan untuk apa?
Dan:
Siapa yang dapat melihat data tersebut?
5. Ketidakjelasan pengambilan keputusan
Jika algoritma memberikan skor rendah kepada pekerja, pekerja mungkin tidak mengetahui bagaimana skor tersebut dihitung.
6. Ketergantungan terhadap algoritma
Keputusan manajemen dapat menjadi terlalu bergantung pada data AI tanpa mempertimbangkan konteks manusia di balik angka tersebut.
Apakah AI Berarti Buruk bagi K3?
Tidak.
Penting untuk melihat persoalan ini secara seimbang.
AI juga dapat memberikan manfaat besar bagi keselamatan pekerja.
Misalnya, AI dapat digunakan untuk mendeteksi kondisi berbahaya yang sulit diamati manusia secara terus-menerus.
AI juga dapat membantu perusahaan:
mendeteksi → memperingatkan → mencegah → mengevaluasi
sebelum kecelakaan terjadi.
Contohnya:
Seorang pekerja memasuki zona berbahaya.
Kamera AI → mendeteksi pekerja → sistem memberikan peringatan → supervisor menerima notifikasi → pekerja diarahkan keluar dari zona bahaya.
Dalam skenario seperti ini, AI dapat menjadi alat pencegahan.
ILO sendiri mencatat bahwa AI dan digitalisasi memiliki potensi meningkatkan keselamatan dan produktivitas, tetapi manfaat tersebut perlu dikelola bersama risiko terhadap kondisi psikososial dan kualitas pekerjaan. (International Labour Organization)
Jadi, persoalannya bukan:
“AI atau manusia?”
Melainkan:
“Bagaimana AI digunakan agar keselamatan meningkat tanpa mengorbankan kesejahteraan dan hak pekerja?”
Prinsip Human-Centred AI untuk K3
Salah satu pendekatan yang penting adalah memastikan bahwa teknologi tetap berorientasi pada manusia.
Beberapa prinsip yang dapat diterapkan perusahaan adalah:
1. Jelaskan tujuan penggunaan AI
Pekerja harus mengetahui apakah kamera atau sensor digunakan untuk keselamatan, produktivitas, investigasi, atau tujuan lainnya.
2. Batasi data yang dikumpulkan
Tidak semua data yang secara teknis dapat dikumpulkan harus dikumpulkan.
Perusahaan perlu mempertimbangkan apakah data tersebut benar-benar diperlukan untuk tujuan K3.
3. Lindungi privasi pekerja
Data pekerja harus memiliki mekanisme perlindungan, akses, penyimpanan, dan penggunaan yang jelas.
4. Jangan menjadikan AI sebagai satu-satunya pengambil keputusan
AI sebaiknya menjadi alat bantu bagi manusia.
Keputusan yang berdampak besar terhadap pekerja perlu mempertimbangkan konteks dan penilaian manusia.
5. Berikan transparansi
Pekerja perlu mengetahui bagaimana sistem bekerja secara umum dan bagaimana data mereka digunakan.
6. Libatkan pekerja
Pekerja dan perwakilannya sebaiknya dilibatkan ketika teknologi pemantauan AI diperkenalkan.
ILO juga menekankan pendekatan terintegrasi yang menghubungkan regulasi ketenagakerjaan, K3, nondiskriminasi, serta perlindungan data dan privasi dalam menghadapi risiko AI di tempat kerja. (International Labour Organization)
Contoh Penerapan di Tempat Kerja
Bayangkan sebuah perusahaan konstruksi memasang kamera AI.
Sistem memiliki kemampuan:
Kamera AI
↓
Mendeteksi helm dan rompi
↓
Mendeteksi pekerja memasuki zona berbahaya
↓
Memberikan peringatan
↓
Mengirim notifikasi kepada petugas K3
↓
Dilakukan tindakan pencegahan
Ini merupakan penggunaan AI yang berorientasi pada keselamatan.
Namun sistem yang sama dapat menjadi problematis jika perusahaan juga menggunakannya untuk:
memantau setiap gerakan pekerja → menghitung waktu berhenti → memberikan skor individu → membandingkan pekerja → meningkatkan target kerja.
Di sini muncul pertanyaan K3 yang lebih kompleks.
Apakah teknologi tersebut masih berfungsi sebagai alat keselamatan, atau sudah menjadi sistem pengawasan pekerja?
Jawabannya sangat bergantung pada desain, tujuan, tata kelola, dan cara teknologi tersebut digunakan.
K3 Tidak Lagi Hanya Tentang Helm dan Sepatu Safety
Perkembangan AI menunjukkan bahwa konsep K3 semakin luas.
Dulu kita mungkin bertanya:
Apakah pekerja menggunakan APD?
Sekarang pertanyaannya berkembang menjadi:
Apakah sistem kerja berbasis AI menciptakan lingkungan kerja yang aman secara fisik sekaligus sehat secara psikososial?
Ini merupakan perubahan penting.
Keselamatan kerja tidak cukup hanya memastikan bahwa pekerja tidak jatuh, tertabrak mesin, atau terpapar bahan berbahaya.
Sistem K3 modern juga perlu memperhatikan bagaimana pekerjaan dirancang, dikelola, dipantau, dan dievaluasi.
ILO pada 2026 bahkan memperkirakan lebih dari 840.000 kematian per tahun berkaitan dengan kondisi kesehatan yang berhubungan dengan risiko psikososial di tempat kerja, berdasarkan estimasi global untuk lima kelompok risiko utama. Angka tersebut bukan berarti seluruh kematian itu disebabkan oleh AI; justru angka ini menunjukkan besarnya konteks risiko psikososial yang perlu diperhatikan ketika teknologi baru mengubah cara kerja. (International Labour Organization)
Kesimpulan
AI memiliki potensi besar untuk menjadi alat keselamatan kerja generasi baru.
Kamera AI dapat mendeteksi pekerja tanpa APD. Sensor dapat mendeteksi kondisi berbahaya. Algoritma dapat membantu mengidentifikasi pola kecelakaan. Sistem dapat memberikan peringatan sebelum insiden terjadi.
Tetapi teknologi yang sama juga dapat menciptakan risiko baru jika digunakan untuk pengawasan berlebihan, meningkatkan intensitas kerja, mengurangi otonomi, atau mengumpulkan data pekerja tanpa transparansi yang memadai.
Karena itu, pertanyaan penting dalam K3 bukan sekadar:
“Apakah kita menggunakan AI?”
Tetapi:
“Apakah AI membuat tempat kerja lebih aman sekaligus tetap menghormati manusia yang bekerja di dalamnya?”
Masa depan K3 kemungkinan bukan hanya tentang smart safety, tetapi juga tentang human-centred safety—teknologi yang melindungi pekerja tanpa menghilangkan otonomi, privasi, dan martabat mereka.
ILO – AI systems @ work: a changing psychosocial work environment
ILO – The psychosocial working environment: Global developments and pathways for action
