K3 di Era AI: Ketika Teknologi Justru Menambah Stres Pekerja

K3 di Era AI: Ketika Teknologi Justru Menambah Stres Pekerja

Artificial Intelligence (AI) semakin banyak digunakan di tempat kerja. Teknologi ini dapat membantu perusahaan menganalisis data, memprediksi risiko kecelakaan, mengotomatisasi pekerjaan berbahaya, memantau kondisi lingkungan kerja, hingga membantu pekerja mengambil keputusan dengan lebih cepat.

Dari perspektif Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), perkembangan tersebut tentu terlihat menjanjikan.

Namun, ada pertanyaan yang mulai menjadi semakin penting:

Bagaimana jika teknologi yang seharusnya membuat pekerjaan lebih aman justru membuat pekerja semakin stres?

Persoalan K3 di era AI ternyata tidak hanya berkaitan dengan mesin, robot, kebisingan, panas, bahan kimia, atau kecelakaan kerja. Perubahan teknologi juga membawa risiko yang lebih sulit terlihat: tekanan psikologis, kehilangan otonomi, pengawasan digital, beban informasi, tuntutan untuk selalu tersedia, hingga kekhawatiran bahwa suatu hari pekerjaan manusia akan digantikan oleh mesin.

Dengan kata lain, AI dapat menciptakan bentuk baru dari bahaya kerja yang tidak selalu terlihat secara fisik.

AI dan Munculnya Risiko Psikososial Baru

Dalam pendekatan K3 tradisional, bahaya biasanya lebih mudah dikenali. Misalnya, pekerja terpapar bahan kimia, bekerja di tempat tinggi, menggunakan mesin berbahaya, atau mengangkat beban berat.

Risiko psikososial berbeda.

Pekerja mungkin terlihat duduk dengan nyaman di depan komputer, berada di ruangan ber-AC, dan tidak berhadapan langsung dengan mesin berbahaya. Namun, di balik layar tersebut dapat terjadi tekanan yang terus-menerus.

AI dapat menentukan target, mengukur produktivitas, memonitor aktivitas, memberikan peringatan ketika kinerja dianggap menurun, bahkan membantu menentukan pembagian tugas.

ILO dalam publikasinya pada April 2026 menyoroti bahwa AI di tempat kerja dapat meningkatkan risiko psikososial melalui pengawasan, intensifikasi pekerjaan, berkurangnya otonomi, serta kekhawatiran mengenai privasi dan penggunaan data pekerja.

Artinya, teknologi dapat mengubah bukan hanya cara seseorang bekerja, tetapi juga bagaimana seseorang merasakan pekerjaannya.


1. Algorithmic Management: Ketika Algoritma Menjadi “Atasan”

Salah satu perubahan besar dalam dunia kerja modern adalah munculnya algorithmic management atau manajemen berbasis algoritma.

Dalam sistem ini, algoritma dapat digunakan untuk mengatur pembagian pekerjaan, menentukan prioritas, mengukur produktivitas, memberikan penilaian, bahkan memantau performa pekerja.

Bayangkan seorang pekerja yang setiap hari melihat dashboard kinerja.

Targetnya ditampilkan secara real-time.

Produktivitas dibandingkan dengan pekerja lain.

Setiap keterlambatan tercatat.

Setiap aktivitas dianalisis.

Setiap penurunan performa dapat memunculkan notifikasi.

Secara teknis, sistem tersebut dapat meningkatkan efisiensi.

Namun secara psikologis, pekerja dapat merasa bahwa dirinya selalu diawasi dan selalu dinilai.

Penelitian yang terbit di Frontiers in Public Health pada 1 September 2026 bahkan mengidentifikasi perceived algorithmic management sebagai bentuk risiko psikososial baru. Penelitian tersebut mengaitkannya dengan berkurangnya rasa otonomi pekerja dan meningkatnya kecemasan bahwa pekerjaan dapat digantikan oleh AI.

Di sinilah K3 perlu memperluas cara pandangnya.

Siapa yang mengendalikan pekerja?

Jika dahulu jawabannya adalah manusia atau supervisor, sekarang jawabannya bisa berupa sistem algoritmik.


2. Target Kerja yang Ditentukan Algoritma

Teknologi memungkinkan perusahaan mengukur hampir segala sesuatu.

Berapa banyak tugas yang diselesaikan?

Berapa lama waktu yang dibutuhkan?

Berapa banyak pelanggan yang dilayani?

Berapa lama pekerja tidak aktif?

Berapa target yang tercapai?

Data tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas. Namun, ketika indikator produktivitas menjadi terlalu dominan, pekerja dapat terdorong untuk terus bekerja lebih cepat.

Masalah muncul ketika kecepatan menjadi lebih penting daripada kemampuan manusia untuk beristirahat.

Pekerja akhirnya bukan hanya bekerja untuk menyelesaikan tugas, tetapi bekerja untuk “mengalahkan angka” yang ditampilkan sistem.

Kondisi tersebut dapat menciptakan work intensification, yaitu meningkatnya tekanan untuk menyelesaikan pekerjaan dalam waktu yang semakin singkat.

Review penelitian 2026 mengenai AI dan digitalisasi kerja menemukan bahwa intensifikasi pekerjaan, technostress, berkurangnya otonomi, dan ketidakamanan kerja merupakan beberapa risiko psikososial yang konsisten ditemukan dalam lingkungan kerja yang semakin terdigitalisasi.


3. Digital Surveillance: Ketika Pekerja Merasa Selalu Diawasi

Kamera, software monitoring, GPS, aplikasi absensi, screen monitoring, sistem pelacakan aktivitas, hingga analisis produktivitas kini semakin mudah diterapkan.

Dari sisi perusahaan, teknologi tersebut dapat membantu keamanan dan pengawasan operasional.

Namun, ada batas tipis antara monitoring untuk keselamatan dan monitoring yang membuat pekerja merasa diawasi terus-menerus.

Penelitian tahun 2026 terhadap pekerja di organisasi besar di Jerman menemukan bahwa pemantauan digital berkaitan negatif dengan kepuasan kerja, terutama ketika pekerja merasakan adanya pengawasan yang konstan. Otonomi kerja menjadi salah satu faktor penting dalam hubungan tersebut.

Pekerja yang merasa setiap gerakannya dipantau dapat mengalami tekanan psikologis.

Bahkan ketika tidak sedang melakukan kesalahan, ia dapat merasa:

“Apakah saya sedang diawasi?”

Pertanyaan sederhana tersebut dapat menciptakan stres yang berlangsung terus-menerus.


4. Selalu Online: Ketika Jam Kerja Tidak Lagi Memiliki Batas

Smartphone dan aplikasi komunikasi membuat pekerjaan menjadi semakin mudah.

Pesan dapat dikirim kapan saja.

Rapat dapat dilakukan dari mana saja.

Dokumen dapat diperiksa melalui ponsel.

Notifikasi pekerjaan muncul bahkan ketika seseorang sudah berada di rumah.

Masalahnya adalah batas antara waktu kerja dan waktu pribadi menjadi semakin kabur.

Pekerja mungkin secara fisik sudah meninggalkan kantor, tetapi secara mental masih berada di tempat kerja.

Muncullah kondisi yang sering disebut sebagai always-on culture.

Pekerja merasa harus selalu tersedia.

Harus segera membalas pesan.

Harus membaca email.

Harus merespons notifikasi.

Harus tetap mengikuti perkembangan pekerjaan.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mengganggu pemulihan mental setelah bekerja dan memperbesar risiko kelelahan.

Konsep right to disconnect kemudian menjadi semakin relevan: pekerja membutuhkan hak untuk benar-benar terputus dari pekerjaan di luar jam kerja tanpa takut mendapatkan konsekuensi negatif.


5. Information Overload: Terlalu Banyak Informasi Juga Bisa Menjadi Bahaya

AI mampu menghasilkan informasi dalam jumlah yang sangat besar.

Dashboard memberikan data.

Sistem memberikan notifikasi.

Sensor menghasilkan peringatan.

Email terus masuk.

Aplikasi mengirimkan pesan.

AI memberikan rekomendasi.

Masalahnya bukan lagi kekurangan informasi.

Justru sebaliknya:

pekerja dapat mengalami kelebihan informasi.

Dalam kondisi tertentu, terlalu banyak informasi dapat meningkatkan beban kognitif. Pekerja harus menentukan informasi mana yang penting, mana yang harus segera ditindaklanjuti, dan mana yang sebenarnya tidak relevan.

Dalam lingkungan kerja yang membutuhkan keputusan cepat, kelebihan informasi bahkan dapat menjadi masalah keselamatan.

Jika seorang pekerja menerima 50 notifikasi keselamatan dalam sehari, pertanyaannya adalah:

Apakah semua peringatan tersebut benar-benar membuatnya lebih aman?

Atau justru membuat peringatan penting kehilangan perhatian karena pekerja mengalami alert fatigue?


6. Fear of Replacement: Ketakutan Akan Digantikan AI

Salah satu risiko psikososial paling manusiawi dari perkembangan AI adalah rasa takut kehilangan pekerjaan.

Ketika pekerja melihat AI dapat menulis laporan, menganalisis data, membuat desain, melayani pelanggan, mengoperasikan sistem, bahkan mengambil keputusan tertentu, muncul pertanyaan:

“Apakah pekerjaan saya masih dibutuhkan lima tahun lagi?”

Ketidakpastian tersebut dapat menjadi sumber stres.

Review 2026 tentang AI dan kesehatan mental pekerja menemukan bahwa persepsi ancaman terhadap pekerjaan dan otomatisasi berkaitan dengan meningkatnya stres serta menurunnya kesejahteraan, sementara algorithmic management juga dikaitkan dengan meningkatnya tekanan kerja dan berkurangnya kemampuan mengambil keputusan.

Ironisnya, semakin cepat teknologi berkembang, semakin besar pula kebutuhan pekerja untuk terus belajar.

Pekerja tidak hanya harus menyelesaikan pekerjaan hari ini.

Mereka juga harus memikirkan:

“Skill apa yang harus saya pelajari agar tetap dibutuhkan besok?”


7. Dari Technostress Menuju Burnout

Semua tekanan tersebut dapat terakumulasi.

Teknologi baru harus dipelajari.

Target meningkat.

Pekerjaan dipantau.

Notifikasi tidak berhenti.

Pekerja harus selalu online.

Informasi semakin banyak.

Pada saat yang sama, ada kekhawatiran akan kehilangan pekerjaan.

Gabungan kondisi tersebut dapat menciptakan technostress, yaitu stres yang berkaitan dengan penggunaan dan tuntutan teknologi.

Penelitian PLOS ONE tahun 2026 pada lingkungan manufaktur otomatis menunjukkan bahwa technostress merupakan risiko psikososial yang relevan dan meneliti kaitannya dengan kesehatan mental, burnout, keterlibatan kerja, serta keselamatan. Penelitian tersebut melibatkan ratusan pekerja dari lima fasilitas manufaktur otomatis.

Hal ini menunjukkan bahwa risiko teknologi tidak berhenti pada “pekerja merasa tidak nyaman menggunakan sistem baru”.

Jika tidak dikelola, tekanan tersebut dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius bagi kesehatan dan keselamatan kerja.


K3 Harus Berubah: Bukan Hanya Melindungi Tubuh, tetapi Juga Pikiran

Perkembangan AI menunjukkan bahwa definisi keselamatan kerja perlu semakin luas.

K3 di era AI tidak cukup hanya bertanya:

“Apakah mesin ini aman?”

Kita juga harus bertanya:

  • Apakah teknologi ini meningkatkan beban mental pekerja?
  • Apakah pekerja memiliki kendali terhadap pekerjaannya?
  • Apakah pekerja merasa selalu diawasi?
  • Apakah target yang diberikan algoritma realistis?
  • Apakah pekerja dapat beristirahat tanpa tekanan?
  • Apakah data pekerja digunakan secara transparan?
  • Apakah pekerja memiliki kesempatan untuk mempertanyakan keputusan algoritma?
  • Apakah pekerja mendapatkan pelatihan ketika teknologi baru diterapkan?
  • Apakah penggunaan AI meningkatkan atau justru mengurangi kesejahteraan pekerja?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian penting dari K3 modern.


Bagaimana Perusahaan Mencegah Risiko K3 dari AI?

Perusahaan tidak harus menolak AI.

Justru AI dapat memberikan manfaat besar bagi K3 jika diterapkan dengan pendekatan human-centered.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Melakukan psychosocial risk assessment

Sebelum menerapkan sistem AI, perusahaan perlu menilai bukan hanya risiko teknis, tetapi juga dampaknya terhadap stres, beban mental, otonomi, dan kesejahteraan pekerja.

2. Transparansi algoritma

Pekerja perlu mengetahui secara umum bagaimana sistem menentukan target, mengevaluasi performa, atau memberikan rekomendasi.

3. Menetapkan batas digital surveillance

Tidak semua aktivitas pekerja harus dipantau.

Monitoring harus memiliki tujuan yang jelas, proporsional, dan menghormati privasi.

4. Memberikan hak untuk disconnect

Pekerja perlu memiliki waktu di mana mereka benar-benar dapat berhenti memikirkan pekerjaan.

5. Memberikan pelatihan AI

Ketika teknologi berubah, perusahaan harus memberikan kesempatan kepada pekerja untuk beradaptasi.

AI seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kemampuan manusia, bukan sekadar alat untuk mengurangi jumlah tenaga kerja.

6. Mempertahankan human oversight

Keputusan yang berdampak besar terhadap pekerja tidak seharusnya sepenuhnya diserahkan kepada algoritma.

Tetap diperlukan manusia yang dapat menjelaskan, mengoreksi, dan mempertanggungjawabkan keputusan tersebut.


AI Seharusnya Membuat Pekerjaan Lebih Manusiawi

AI memang memiliki potensi besar dalam K3.

AI dapat membantu memprediksi kecelakaan, mendeteksi kelelahan, menganalisis kondisi lingkungan kerja, mengidentifikasi perilaku berisiko, dan membantu mengurangi pekerjaan yang berbahaya.

Tetapi keberhasilan teknologi tidak seharusnya hanya diukur berdasarkan berapa persen produktivitas meningkat.

Kita juga harus bertanya:

Apakah pekerja menjadi lebih sehat?

Apakah pekerja merasa lebih aman?

Apakah pekerja memiliki lebih banyak kendali atas pekerjaannya?

Apakah teknologi membuat manusia bekerja lebih baik atau justru bekerja tanpa henti?

Inilah tantangan K3 di era Artificial Intelligence.

Teknologi yang canggih belum tentu menciptakan tempat kerja yang sehat.

Sebuah sistem AI mungkin mampu menghitung produktivitas seorang pekerja hingga angka terakhir. Namun, sistem tersebut belum tentu mampu memahami bahwa manusia membutuhkan istirahat, penghargaan, rasa aman, otonomi, dan kepastian bahwa dirinya tetap memiliki nilai.

Pada akhirnya, tujuan K3 bukanlah menciptakan pekerja yang semakin produktif karena diawasi teknologi.

Tujuan K3 adalah menciptakan manusia yang dapat bekerja secara aman, sehat, bermartabat, dan berkelanjutan di tengah perkembangan teknologi.

Karena itu, pertanyaan terpenting di era AI bukan lagi:

“Seberapa pintar teknologi kita?”

Melainkan:

“Seberapa manusiawi tempat kerja yang kita ciptakan dengan teknologi tersebut?”

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *